Belajar Membangun Pasar Berbasis Rumah Tangga Miskin dari BUMDes Gemawang

31 Januari 2017 19:24:39 WIB

Belajar Membangun Pasar Berbasis Rumah Tangga Miskin dari BUMDes Gemawang

Sekilas Tentang Praktek Nyata Ekonomi Solidaritas Melalui BUMDes

Ditulis oleh: Muhamad Hasby, Penggiat Desa mitra FPPD Yogyakarta  

 

 

 

 

                Pada umumnya pembangunan pasar diawali dengan pembuatan fisik bangunan pasar. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh BUMDesa Gemawang, Kecamatan Gemawang Kabupaten Temanggung Provinsi Jawa Tengah.

                Pasar Pagi di Desa Gemawang dibangun oleh BUMDes bersama Pedagang yang keseluruhannya adalah Rumah Tangga Miskin (RTM) yang sebagian terlilit utang dan kesulitan mendapatkan pinjaman uang karena tidak punya lagi harta yang bisa dijaminkan.

Jumlah RTM di Desa Gemawang cukup tinggi mencapai 539 RTM. Salah satu penyumbang tingginya angka kemiskinan di Desa Gemawang adalah banyaknya rumah tangga yang ketergantungan dengan pinjaman uang berbunga tinggi atau biasa disebut oleh masyarakat dengan istilah “renten”.

Kondisi ini yang menggerakkan Kepala Desa Gemawang, Subari, melalui Musyawarah Desa mengaktifkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang diketuai oleh Johar dan mengajak 122 Rumah Tangga Miskin membuat pasar untuk berdagang kebutuhan pangan warga Desa. Bagaimana mungkin Rumah Tangga Miskin yang tidak mempunyai modal dan terlilit hutang dapat berdagang dan membuat pasar?

Ada banyak hal unik dan sarat makna solidaritas didalam pembentukan dan pengelolaan pasar ini. Keunikan dan rasa solidaritas inilah yang membuat pasar ini mampu bertahan sejak awal pembentukannya bulan Agustus 2016, dan berkembang hingga sekarang dengan jumlah pedagang dan pembeli yang terus bertambah. RTM sebagai pedagang yang awalnya tidak mempunyai modal berdagang, sekarang menjadi penabung di BUMDes. Bukti bahwa pasar yang unik ini telah berhasil memberdayakan ekonomi Rumah Tangga Miskin. Keunikan-keunikan itu diantaranya:

Pertama, Inisiatif Sendiri. Pembuatan pasar ini murni inisiatif BUMDes Gemawang bersama Rumah Tangga Miskin yang difasilitasi oleh Pemerintah Desa.

Kedua, Berbasis Rumah Tangga Miskin. Pada umumnya pasar didominasi oleh para pemilik modal yang menjadi pedagang. Berbeda dengan yang terjadi didalam pengelolaan Pasar Pagi Gemawang. Keseluruhan pedagang di pasar ini adalah Rumah Tangga Miskin yang dipilih melalui proses verifikasi yang ketat.

Ketiga, Solidaritas. Pada umumnya pembangunan pasar diawali dengan membuat bangunan fisik pasar. Berbeda dengan yang dilakukan oleh BUMDes Gemawang. Pembuatan pasar ini diawali dengan membangun komunikasi dan rasa solidaritas antara RTM calon pedagang dengan warga lokal sebagai calon konsumen yang difasilitasi oleh BUMDes melalui musyawarah.

Konsumen berasal dari masyarakat lokal Desa Gemawang dan masyarakat luar Desa yang diajak oleh BUMDes agar membeli produk lokal yang dijual oleh para RTM sebagai bentuk solidaritas dan upaya pengembangan produk lokal.

Keempat, Satu Pedagang Satu Produk. Ya, setiap pedagang hanya boleh menjual satu jenis produk kebutuhan pangan. Tujuannya agar tidak terjadi monopoli dan persaingan yang tidak sehat antar pedagang, sehingga semangat kolektivitas pedagang tetap terjaga.

Kelima, Prioritas Produk Lokal. Produk yang dijual harus produk lokal. Berasal dari Desa Gemawang. Tujuannya untuk mengembangkan produk lokal dan menggerakkan masyarakat agar berinisiatif memproduksi produk-produk lokal.

Keenam, Melatih Pedagang Menabung. Modal RTM berdagang berasal dari BUMDes yang dikembalikan dengan cara menabung setiap hari di BUMDes yang besarnya tidak ditentukan, melainkan sesuai kemampuan pedagang. Dengan cara ini, para pedagang tidak terbebani membayar angsuran pinjaman dan terlatih untuk menabung. Sehingga angsuran per bulan dapat ditutup dengan uang tabungan harian dan sisanya digunakan untuk tambahan modal berdagang. Saat ini RTM sebagai pedagang yang awalnya tidak mempunyai modal berdagang sekarang telah menjadi penabung di BUMDes dan memiliki uang sisa angsuran yang dapat digunakan untuk mengembangkan usaha dagangannya.

Ketujuh, Gerakan Cinta Produk Lokal. Untuk mengahadapi perdagangan bebas yang berdampak masuknya produk luar ke dalam Desa. BUMDes Gemawang mengajak dan memberikan pinjaman modal kepada puluhan pemuda dari Rumah Tangga Miskin untuk berjualan keliling menggunakan sepeda motor ke rumah warga setiap Dusun agar warga lokal Desa membeli produk lokal.

Kedelapan, Efek Pemberdayaan Ekonomi Keluarga RTM. Dengan adanya pasar ini, RTM sebagai Pedagang mampu memberdayakan anggota keluarganya dan saudara-saudaranya untuk bersama-sama membuat produk untuk memenuhi permintaan Pasar. Setidaknya masing-masing RTM dapat melibatkan 3-4 anggota keluarganya atau saudara-saudaranya untuk bersama-sama memproduksi barang dagangan.

Kesembilan, Peran BUMDes sebagai “orang tua”. Keluhan dari konsumen tentang produk dan persoalan lainnya hanya dapat disampaikan konsumen kepada BUMDes untuk menjadi bahan BUMDes sebagai “orang tua” membina pedagang. Tujuannya agar hubungan dagang yang baik antara pedagang dan konsumen tetap terjaga.

Inilah sekilas tentang praktek nyata membangun bisnis solidaritas melalui pasar berbasis Rumah Tangga Miskin yang berhasil dilakukan oleh BUMDes Gemawang bersama Rumah Tangga Miskin di Desa Gemawang sejak Agustus 2016 hingga sekarang dengan jumlah pedagang dan pembeli yang terus bertambah.

Pada awal pembentukan pasar ini, Agustus 2016, RTM yang menjadi pedagang berjumlah 122 orang dengan pembeli berjumlah 700 an orang yang berasal dari masyarakat yang tersebar di 8 Dusun. Hingga saat tulisan ini dibuat, November 2017, jumlah RTM yang menjadi pedagang meningkat jumlahnya menjadi 153 orang dan pembeli meningkat jumlahnya menjadi 1.600-an orang yang tersebar di wilayah lokal Desa Gemawang dan sebagian lagi di wilayah Desa lain sekitar Desa Gemawang.

Detil proses perjalanan pembentukan pasar ini dapat dipelajari dengan melihat langsung kegiatan pasar dan berdialog dengan para pedagang serta pengelola BUMDes Gemawang.

Saat ini BUMDes Gemawang didampingi Penggiat Desa mitra Forum Pengembangan dan Pembaharuan Desa (FPPD) Yogyakarta sedang membangun Pabrik Tahu dan Tempe, Kopi Organik, pengolahan Gula Aren Organik untuk memenuhi kebutuhan pasar, merintis pembuatan Toko Pemasaran Online, Pengolahan Sampah dan menjajaki kerjasama usaha SPBU Mini dengan BUMN Pertamina.

Semoga, perjalanan BUMDes Gemawang membangun Pasar Berbasis Rumah Tangga Miskin ini dapat menjadi inspirasi bagi Desa-Desa lain dalam memanfaatkan Dana Desa untuk memberdayakan ekonomi rumah tangga miskin melalui BUMDes guna mengurangi angka kemiskinan di Desa.

 

Narasumber Tulisan: Kepala Desa Gemawang, Sekretaris Desa Gemawang, Pengelola BUMDes Gemawang, dan Pedagang Pasar Gemawang.

Media Sosial

FacebookTwitterGoogle PlussYoutubeInstagram

Statistik Kunjungan

Hari ini
Kemarin
Jumlah pengunjung

Peta Lokasi Gemawang

tampilkan dalam peta lebih besar